Gomi-less

July 5th, 2007 – 10:57 am
Tagged as: Cem-macem

note: Gomi = sampah (bhs Jepang), Gomi-less = Trashless (tidak bersampah).

Pada waktu saya mengurus visa di kedutaan besar Jerman di Tokyo, saya datang dengan segepok data-2 yang dibutuhkan seperti yang tertulis di webnya. Mulai dari status keuangan, tiket pesawat, reservasi hotel hingga 2 formulir dengan pasfoto yang persyaratannya super ketat. Sebenarnya normalnya hanya 1 formulir yang diperlukan pada umunya, krn negara Indonesia digolongkan dengan negara berbahaya (potensi teroris) maka diperlukan 2 formulir.

Pada saat dipanggil sesuai dengan nomer urut, semua formulir diperiksa dengan teliti oleh staff kedubes Jerman dengan teliti, jika ada yang tidak jelas akan ditanyakan lagi. Walau teliti stafnya ramah sekali, tidak ada kesan mempersulit atau kesan “ngerjain”. Lalu tampaknya pasfoto saya dilepas dari salah satu formulir dan di-scan-nya, tak lama kemudian staf tersebut memanggil saya lagi, sambil menyodorkan 1 lembar formulir dimana nama dan data-2 diri lain sudah tertulis serta hasil scan-an pasfoto saya sudah terpampang di lembar formulir itu. (staff tersebut sepertinya menyalin semua data-2 dan pasfoto dalam 1 lembar formulir). Kemudian stafnya bilang, tolong dicek lagi dan kalo sudah ok tanda tangani di bagian bawah ini. Sambil tesenyum stafnya juga bilang, ada beberapa catatan dalam bahasa Jerman, kalo anda tidak ngerti cuekin aja. Setelah saya cek dan saya tandatangani serta saya serahkan kembali 1 formulir tersebut, staff tersebut menyerahkan semua formulir yang saya bawa dari rumah juga termasuk pasfotonya juga dikembalikan.

Saya terkejut dan bengong sebentar, dagelan apalagi nich..fikir saya..masak semua formulir dikembalikan dan tidak ada 1 lembarpun yang diambilnya. Lalu saya tanyakan ke staf kedubes Jerman dalam bahasa jepang “kore wa hitsuyonai desyoka?” (ini tidak diperlukan lagi?) sambil saya mengangat semua formulir yang saya bawa dari rumah. Dengan ramah staf terebut menjawab “tidak, 1 lembar yang anda tandatangani ini sebagai gantinya…”. “Ok semua sudah selesai, tunggu telpon dari kami 10 hari lagi” staf tersebut mengakhiri pembicaraan. Dengan mengucapkan terima kasih, saya keluar dari gedung Kedubes Jerman tersebut.

Sambil jalan pulang, saya berfikir keras kenapa semua data saya tidak ada yang diambil 1 pun, hanya pasfoto saya aja yang discan dan dikembalikan lagi. Kenapa syarat-2 visa tersebut hanya dilihat dan di cek saja (dicopypun tidak). Sampai saat saya menulis blog ini saya tidak tau pasti jawabannya, tetapi saya menduga Kedubes Jerman sudah menerapkan sistem paperless (menggunakan kertas sedikit mungkin) untuk menghindari Gomi/trash. Saya bisa bayangkan jika dalam 1 hari yang apply visa 50 orang, dalam 1 thn mungkin sampahnya kerta formulir tersebut bisa 1 kontainer selain cost untuk membuang sampah juga ada cost untuk menghancurkan sampah sebelum dibuang (harus dihancurkan krn menyangkut privasi personal yang mendaftar visa).

Kapan ya..kantor-2 instansi dan swasta di Indonesia menerapkan paperless? Banyak keuntungan dengan paperless, misal:
1. Menguragi penggundulan hutan (krn bahan kertas dari kayu)
2. Hemat energi (krn membuat kertas butuh energi)
3. Menjaga lingkungan udara (krn proses untuk menghasilkan energi, juga menghasilkan CO2)

Sudahlah nggak usah nunggu instruksi dari pemerintah atau dari kantor. Let’s start from ourself.

No Comments

» RSS feed for comments on this post

No comments yet.


Sorry, the comment form is closed at this time.


Close
E-mail It