Stone House
Ini masih tentang kejadian di Montreal Canada 1.5 thn yang lalu. Sebenarnya saya malu dan merasa bodoh dengan menceritakan ini…, tetapi krn ada rasa lain “jengkel” mungkin layak saya ceritakan. Critanya begini..
Pada waktu hari terakhir seminar saya dan teman satu lab saya, Sakurai-san saya memanggilnya (sekarang udah jadi doctor dan ngajar di Tokyo Metropolitan University), jalan-2 menjelajahi kota montreal…krn namanya menjelajahi..tentu jalan kaki, kalo naik bis namanya bukan jalan-2 tapi bis-bis an. Entah sudah berapa kilo meter kami berdua jalan-2, kami melihat dan foto-2 di depan gereja terkenal di Montreal (sayang nggak ada masjid di sana), ke taman, ke toko-2 walau nggak ada yang dibeli sama sekali, dll. Yang saya ingat, saya jalan-2 tidak dengan memakai sapatu sport tetapi sepatu kulit, jadi cepat lelah dan capek di kaki kalo untuk jalan-jalan. Mungkin sudah 4 jam-an kami berdua jalan-2, lalu saya bilang ke Sakurai-san “kairimasyo” –jawa: ayo mulih–, maksudnya tentu pulang ke hotel.
Tetapi Sakurai-san ini bukan men-iyakan atau menolak, malah mengambil buku panduan “wisata ke Montreal” yang dibawa dari jepang. Lalu dia bilang “jayan, boku kono basho ni ikaitai” –kebumen: jayan, inyong pingin mrene– sambil menunjukkan map cara menuju ketempat yang diinginkan sakurai-san. Nama tempatnya “Stone House”, dalam benak saya tentu “Rumah Batu” jaman dulu kala, dimana batu-2 kali besar-2 disusun membentuk rumah. Tentu unik dan bagus kalo bisa masuk kesana atau cuma melihat saja. Tetapi krn saya sudah cape’ saya nggak mau, saya ingin pulang, kaki saya sudah sakit. Kami berdebat, antara dia yang ingin pergi ke “stone house” dan saya yang ingin pergi ke “hotel”. Sakurai-san ini berargumentasi kalo di jepang dan indonesia nggak ada rumah stone house ini, ini pasti menarik. Dia bilang sejak di jepang sudah bermimpi ingin pergi ke Stone House ini. Dan sudahlah…. akhirnya saya mengalah…ok kita pergi… Stone house dari tempat perdebatan kita itu kira-2 3 ~4 kilo meter-an. Kita akhirnya jalan kaki lagi menuju Stone House itu, seingat saya melewati China Town dan banyak tempat lain.

[di Montreal juga ada andong..tak ubahnya Jogja]
Dengan rasa capek dan sambil nggondok (mangkel) akhirnya sampai di sebuat tempat yang menurut peta adalah tempat stone house, tetapi saya nggak melihat sama sekalo rumah batu (yang ada dalam image/benak saya). Lalu saya tanyakan ke Sakurai-san ini “doko ston hausu” –bhs padang: dimano rumah batu–. Alahkah terkejutnya saya dia menunjukkan jajaran rumah yang dibangun dengan batu bata dan tidak diplaster (dilapisi dengan lapisan semen-pasir). Saya terbengong…antara mangkel dan ingin ketawa …kok saya ini menterjemahkan “stone house” ke “rumah batu” seharusnya saya terjemahkan “rumah batu bata” supaya saya nggak perlu datang ke tempat itu. Krn di indonesia raya rumah batu bata yang tidak diplester tak terhitung jumlahnya dan saya nggak perlu datang ke tempat itu. Bayangan saya tentang ”stone house” adalah rumah dari batu hitam sebesar-besar kepala manusia yang disususun rapi membentuk rumah ambyar dan terbang sudah…Lalu saya bilang ke Sakurai-san ini “Sakurai-san, kono ie mitai ne..indonesia de ippai da yo.., nande boko kono basyo ni itta no..” –semarangan+suroboyoan: cak Sakurai, nek mung omah koyo ngene wae..ning indonesia akeh…laopo aku mau mrene…–. Lalu dia jawab “honto nano..?” –suroboyoan: tenane cak?–.
Dalam batinku aku wis bosen lihat rumah kayak gitu…dan aku langsung ngeloyor kembali ke hotel. Sambil pulang diatas yang kaki-kaki sudah cape’ saya mbatin “juaaaaamput, lak mung omah boto ae ning indonesia mbludhag, laopo aku adoh-2 tekan montreal” –maaf sengaja tidak ada terjemahan untuk ini, jika tidak ngerti resiko anda tidak belajar bahasa jawa timuran–, tapi saya iri..kenapa rumah batu bata aja bisa masuk buku panduan wisata, dipublikasikan dengan baik, di kelolah secara profesional, banyak orang mengujungikan. Kenapa borobudur, prambanan, dan kraton jogja yang jelas-2 jauh lebih baik jarang turis mengunjunginya, tidak ada dibuku panduan yang dibawa temanku itu. Jawabannya: i don’t know (jepang: wakanai, suroboyoan: gak weruh, padang: mano uda..tau, yogya-solo: nyuwun pangapunten, kawula mbotten mangertos).

lucu xixixixi……….
–retno rizki–
Comment made by retno rizki on April 26, 2007 @ 8:53 pm
wakakak…:)
Kalo gitu :bongsone awake dewe gak kalah karo montreal yo cak (:jawatimuran)
Comment made by Musta'in on May 31, 2007 @ 5:27 pm